• header
  • header

Selamat Datang di Website SMP NEGERI 3 SINJAI BARAT | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Staf Pengajar

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMP NEGERI 3 SINJAI BARAT

NPSN : 40304520

Jl.Sungai Tangka Desa Bontosalama Kec.Sinjai Barat Kab.Sinjai


info@smpn3-sinjaibarat.sch.id, smpn3sinbar@gmail.com

TLP :


          

Banner

Jajak Pendapat

Apakah website ini berguna ?
Sangat Berguna
Berguna
Kurang Berguna
Tidak berguna
  Lihat

Statistik


Total Hits : 27407
Pengunjung : 12864
Hari ini : 2
Hits hari ini : 6
Member Online : 0
IP : 54.81.183.183
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Membentuk Generasi Kritis dan Solutif




Peran pendidik sangat strategis dalam merajut kebinekaan dan menangkal kabar palsu atau hoaks di kalangan pelajar. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi informasi, institusi pendidikan beserta para pendidik, dituntut membentuk generasi kritis dan solutif, sekaligus menerima keragaman sebagai modal meraih sukses bersama.

 

Pendidik mulai tingkat pendidikan dasar hingga tinggi menjadi ujung tombak dalam melahirkan generasi muda yang memiliki pemikiran terbuka dan kritis. Fungsi utama pendidik bukan sekadar mencerdaskan, tetapi juga membahagiakan siswa. Mereka harus diperlakukan sesuai minat dan bakatnya, tidak disamaratakan seperti kurikulum saat ini.

Di era kemajuan teknologi, prinsip penyusunan kurikulum tetap harus memanusiakan manusia bukan menjadikan manusia seperti robot yang bernalar tinggi, tetapi tak bernurani. Mayoritas pendidik kita hanya memindahkan isi buku ke otak peserta didik. Akibatnya, siswa tak memiliki pemikiran kritis dan solutif. Kondisi tersebut sangat berbahaya karena siswa bisa dengan mudah menerima berbagai kabar bohong.

 

Tantangan besar dunia pendidikan Indonesia adalah menciptakan siswa kritis. Selama ini siswa cenderung menghapal dan memahami konsep tanpa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kurikulum saat ini telah memasukkan aspek pemikiran kritis dan pemecahan masalah, tetapi butuh kreativitas dan inovasi guru dalam menerapkannya.

 

Di tingkat pendidikan tinggi, kesadaran pendidik untuk menangkal peredaran kabar bohong sangat penting. Pendidik harus lebih selektif memilih konten informasi yang akan dijelaskan pada mahasiswa. Pendidik juga bertanggungjawab menumbuhkan sikap kritis agar mahasiswa tidak mudah menerima informasi.

 

Mata pelajaran multikulturisme patut dipertimbangkan masuk dalam kurikulum pendidikan. Selama ini, multikulturisme sebatas tersirap dalam beberapa mata pelajaran tanpa dijelaskan secara detail. Multikulturisme penting dipahami untuk memandang, mengakui, dan menghormati berbagai perbedaan di era globalisasi yang cenderung menyeragamkan.

 

Semua orang harus berjiwa besar untuk menghargai perbedaan. Sekolah harus menjadi ruang publik yang memfasilitasi siswa dari berbagai latar belakang.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas